Info Terbaru
Loading...
Saturday, October 9, 2010

“Ican..Ican, kesini sebentar!” panggil Ujang teman Ikhsan dari kejauhan yang berdiri di depan toko sepatu branded diantara sekian banyak toko sepatu. Yang jelas di toko itu ada salah satu sepatu yang diinginkan adiknya lho dan harganya tak terjangkau oleh Ikhsan. Aku tahu dia pasti butuh bantuan jika dia memanggil pasti minta bantuan tapi ada yang lebih penting, batin Ikhsan. Ternyata Ujang memang benar minta bantuan. Abaikan saja, Ikhsan cepat temui Ibumu, batinnya kemudian. Tapi karena Ibunya, karena Beliau mengajarinya karena telah terbiasanya dirinya untuk tidak menghiraukan orang yang ingin berbicara pada kita. Minimal aku harus menjawabnya walau hanya sedikit, batinnya lagi. “Ada apa, Jang? Aku ingin cepat pulang, aku khawatir dengan Ibuku. Aku tak ada waktu untuk membantumu maafkanlah,” sahut Ikhsan pada Ujang yang memakai kaos oblong putih. “Ibumu baik-baik saja, Aku justru ingin memberi makanan ini dari Ibumu. Dia khawatir kamu belum makan, Kue yang dititipkannya di warung uwakku laris terjual. Kau tak perlu khawatir.” “Yang benar kau, Jang?” “Masih dak percayo pulo, nak bukti nian apo?” “Alhamdulillah kalo memang benar seperti itu. Iya..ya, keluar tuh bahasa palembangnya, percayo...percayo, he..he..,” jawab Ikhsan yang mencoba dengan logat yang sama dengan Ujang temannya yang tinggal di rumah pak Kosim sejak dua tahun yang lalu. Katanya dia pindahan dari Palembang, Ia anaknya Bu Watik adiknya Pak Kosim. “Aku pengen sih ngomong bahasa Palembang lagi tapi takutnya kamu tidak ngerti, Can. Sepertinya kamu belum dapat pekerjaan yang berarti,” ucap Ujang so(k) but right. “Bisa saja kamu, Jang. Mencari kerja tak semudah yang dibayangkan,” balasnya pada Ujang yang sok nerawang dan yang selalu nyengir tetap eksis walau giginya sekarang ompong. “Baru tuh, keren.” “Kau muji apa nyindir ni? lumayan abis gigit orang sama tulang-tulangnya, apa kau mau juga kugigit?” ucap Ujang dengan candanya. “Ha..ha..ha kau lucu, sebenarnya darimana asalnya entu gigi bisa copot nggak ada angin nggak ada badai. Atawa jangan-jangan kau tak masuk sekolah kemarin gara-gara ini ya, ketauan.” “Kau hebat kalo soal mengait-ngaitkan suatu kejadian dengan kejadian lain, kuacungi jempol dah. Tapi kau salah, Can. Meskipun aku absen tapi aku melakukan sesuatu yang sangat berharga, berkesan menyangkut kepentingan orang khususnya sang mutiara berharga. Aku mewujudkan nilai dasar kepahlawanan yang bersumber..........”jawabnya mendramatisir n so(k) Heroik. Eits, tiba-tiba terputus karena ada seorang Ibu dengan anaknya keluar dari toko sepatu. “Bagus, itu yang tante suka dari kamu. Ni bawakan semua barang-barang, jangan lupa yang di dalam juga!”suruh tante itu pada Ujang yang sedari tadi menunggunya. “Sip, pokoknya tenang aja, kalo sama saya mah rebes tante,” jawabnya dengan logat so(k) Sunda kemudian kemudian melihat ke arah anak tante itu dengan wajah merengut dan bibir yang manyun padahal harusnya senang setelah membeli sepatu baru. Pikiran mereka kayaknya sama, tentunya timbul pertanyaan bukannya mereka mau ikut campur lho. Ujang kenal sama tante itu so pasti dia yang nanya duluan. “Ada apa dengan anaknya, tante? Adek kecil jangan nangis dong, jelek tuh diliatnya.” “Bialin, wek”, jawab anak itu dengan bahasa cadelnya lalu menjulurkan lidah ke Ujang setelah itu berlari ke mobilnya yang terparkir dan meninggalkan Ibunya. “Anun...Anun....nak!” Ibu itu memanggil-manggil anaknya yang tidak menghiraukannya. “Biasa ngambek, ntar juga nggak lagi. Ya, sudah, ambil barangnya di dalam ya. Oh..ya untung kamu ngajak teman kamu, kamu ambil tas dan teman kamu tolong buangin ini!” jawab Ibu itu sambil menyodorkan bungkusan yang akan dibuang. Sepertinya masih ada isinya. Ujang menyikutkan tangannya ke badan Ikhsan supaya Ikhsan segera menerima dan membuangnya tapi Ikhsan.... “ Ini mau dibuang tante? sepertinya isinya masih bagus, apa benar Tante?” “Sudah cukup!! Saya nyuruh kamu untuk membuangnya, di dalamnya isinya sandal putus sudah buruk pula dan tak layak untuk dipakai,” jawab tante itu menegaskan. “Apa saya..., katanya tiba-tiba disconnect (terputus). “Ya saya tahu maksudmu, Ambillah!” jawabnya kemudian ke mobilnya kayaknya Ikhsan sangat mengharapkan kotak sepatu itu. Ya Ikhsan memang seneng ngumpulin barang-barang bekas tapi nih orang emang kreatif deh katanya sih Ia ingin mendaur ulangnya (dukung deh).
          Ikhsan sangat senang walau cuma dapet barang yang kayak gituan bahkan Ia tak peduli dengan uang yang rencananya akan dibagi oleh Ujang karena telah membantunya. Ia ingin cepet-cepet pulang ketemu sama Ibunya. Tiba-tiba ‘bruk’, tabrakan deh Ikhsan dengan seorang cewek seumuran dengannya yang sepertinya salah Ikhsan tuh. “Maaf nih, Aku yang salah,” ujarnya kemudian membantu cewek yang terjatuh lalu cewek manis itu mengambil barang bawaannya, bungkusnya sama dengan punya Ikhsan kayaknya toko sepatu yang sama nih. “Iya, nggak apa kok,” jawabnya dengan wajah kemayu dan tutur kata yang lembut kemudian sepertinya juga terburu-buru meninggalkan Ikhsan. Wangi, lembut, batinnya lalu tersenyum sendiri saat cewek itu pergi (cieh). Akhirnya Ia sampai juga di rumahnya yang asri itu tapi Ia heran rumah itu sepi hanya ada adik kecilnya tampak menangis. “Ada apa, Nisa kok adik kakak malah nangis sih? Ibu kemana?” “Ibu, sakitnya kambuh lagi, Kak tadi kata Ibunya Uci, Ibu dibawa ke rumah sakit hiks..hiks..,” jawab Nisa adiknya yang masih SD dengan tangisan yang terlihat dari wajah dan ucapannya.
          “Astaghfirullah..Di rumah sakit mana, dek? Kenapa nggak ikut?”
         “Gimana sih Kak Ican tadikan Aku les sama Uci di tempat tante Diana dan baru tau sekarang. Ibunya Uci nggak bisa ke rumah sakit tadi katanya Bi Unah duluan yang bawa Ibu ke rumah sakit umum katanya Ibu pingsan hiks..hiks.” “Taruh tas dan Ayo, kita pergi sekarang dek! Kasian Ibu sendiri,” ajak Ikhsan pada adiknya yang menyetujuinya. Tak berapa lama datang Paman Karto suami Bi Unah. “Ayo cepet naik, tenang nggak usah bayar,” suruh Paman Karto menyuruh mereka langsung naik ke motor yang biasa diojekkannya itu.Ikhsan dan Nisa langsung naik karena gratis mereka langsung naik.
         Sementara itu di tempat lain pada waktu yang sama, ada seorang anak kecil yang sedang berulang tahun yang dirayakan sesama keluarganya saja. Mereka orang kaya biasanya pada tahun sebelumnya ultahnya benar-benar dirayakan secara WAH bukan hanya keluarga saja, teman-teman, tetangga, anak yatim, ada juga hiburan meriah pokoknya gak ketinggalan sampe OpeN HouSe tapi kenapa tahun ini sederhana ya? Anak kecil yang imut itu bernama Oca dan punya seorang kakak perempuan yang manis dengan rambut lurus panjang namanya Zahra yang dipanggil Kak Ara oleh adiknya juga ditemani mama dan papanya yang sedari tadi sibuk ditelpon dan menelpon orang pokokya papanya itu supersibuk tapi kayaknya sih ada masalah di hari bahagia anaknya. Seperti ultah-ultah biasanya Lilin sudah ditiup, kue sudah dipotong disuapi Oca ke Zahra lalu ke mama kemudian ke papanya yang langsung di telpon lagi. Tibalah pembagian kado. Pertama, dibukanya kado mamanya yang dalam hati mamanya juga kepikiran dengan suaminya yang pamit untuk pergi karena ada urusan ternyata isinya buku (Ia nggak hobi baca dan selalu terpaksa menerima buku dari mamanya tapi kayaknya menarik) dan baju yang selama ini diinginkannya, kado boneka dari papanya. “Terima kasih, Ma,” ucapnya tapi juga dalam hatinya sedih karena papanya pergi. Kado terakhir kado dari kakaknya yang selalu bikin Ia penasaran dan biasanya emang lucu dan unik. Ia telah membuka kadonya ternyata emang bener-bener unik sampe-sampe limited edition. Ia terkejut dan wajahnya langsung berubah masam menatap kakaknya penuh kemarahan. “Mana mungkin isinya sandal putus,” kata Zahra juga terkejut melihat isinya, Ia menyesali isi kado itu kenapa sebelumnya Ia nggak melihatnya. Ini pasti tertukar katanya, padahal Ia sudah membeli dengan tabungannya sendiri (bener limited tuh kayaknya). “Kak Ara Jahat,” ocehnya dengan penuh kekesalan. Dengan rasa bersalah Ara mencoba menjelaskan pada adiknya yang tidak mau mendengarnya. Mamanya turun tangan dan berusaha meyakinkan adiknya itu.
          Kembali ke Ikhsan, Ia mencoba untuk tetap tegar ketika Ia melihat Ibunya dalam keadaan koma, kekhawatirannya ternyata benar setelah bermimpi bertemu Ibu saat Ia ketiduran di masjid. Malam itu, Ia mengajak adiknya untuk sholat maghrib dan berdoa bersama setelah itu membaca Alqur’an di dekat Ibunya, adiknya tidak kuasa membendung tangisannya. Mereka tidak lapar ketika Bi Unah datang membawa makanan untuk mereka. Bi Unah adalah tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri. Di Jakarta, Ibunya tidak punya keluarga satupun. Perihal Ibunya yang koma, Ibunya pingsan setelah mengambil air wudhu hendak sholat. Ibunya sakit radang paru-paru kronis karena selama ini Ia pernah bekerja keras apapun untuk menghidupi keluarganya termasuk menjadi kuli pengangkut beras, menjadi pekerja berat demi anak-anaknya maklumlah sang Ibu single Parent setelah ditinggal hidup suaminya yang menceraikannya biasalah Ia selingkuh (dasar laki-laki) ketika Ibunya sedang mengandung Nisa anak pertamanya. Lantas Ikhsan adalah anak angkatnya yang ditemukannya di jalan yang sepertinya Ia dibuang oleh Ortu kandungnya. Awalnya Ikhsan tidak mengetahui kalau Ia bukan anak kandung sejak masih SD (sekarang Ia SMA kelas 2) namun secara tidak sengaja Ia mendengar dari pembicaraan kasar seorang suami terhadap istrinya serta perlakuan kasar karena sifatnya yang jahat. Setelah mengetahuinya Ikhsan sendiri menangis pada waktu itu. Ia tidak menyangka kenapa orang tua kandungnya tega membuangnya. “Aku tidak menyangka, Can tapi aku kemaren idak bohong, Ibu kau sehat-sehat bae. Salut aku samo Ibu kau Ikhsan, tetap kuat selalu,” ucap Ujang dengan bahasa Palembangnya kepada Ikhsan di rumah sakit pada hari kedua setelah teman-teman sekelasnya menjenguk Ibunya di rumah sakit. “Ibu emang always kuat, Jang tapi aku juga sedih tiba-tiba harus menghadapi kenyataan ini,” jawabnya meyakinkan cintanya pada Ibu yang membuatnya tetap bertahan dalam hidup. Malam hari seperti biasanya setiap hari Ikhsan tak berhenti sholat (5 waktu emang kewajiban) dan berdoa agar Ibunya cepat sadar. Setelahnya Ia tertidur, rupanya tangan Ibunya bergerak sadar sepertinya akan membicarakan sesuatu pada anaknya yang terbangun. “Alhamdulillah..dek Nisa..dek Nisa, Ibu sadar dek,” panggil Ikhsan pada adiknya yang sepertinya lelah dan ketiduran. “Ikhsan, kamu sudah solat Nak? Hari ini rasanya Ibu sangat senang karena badan Ibu semakin sehat dan sakit di badan Ibu sudah tidak terasa, pasti semua ini berkat doa kalian. Terima kasih anak-anakku,” jawab Ibunya tenang seperti tidak ada masalah yang terbeban lagi. “Alhamdulillah, Aku bersyukur. Iya, Bu setelah operasi pasti akan benar-benar sembuh,” jawab Ikhsan agak sedikit ragu dengan Ibunya yang sangat sehat dan segar itu walaupun belum tentu Ibunya akan dioperasi karena kendala biaya tapi Ikhsan bertekad akan mengusahakannya. “Ibu tidak perlu dioperasi, Can. Sudah sehat kok, jaga diri kalian masing-masing. Ibu merasa sekarang waktu Ibu untuk pergi rasanya Ibu tidak mau memejamkan mata untuk tidur lagi karena takut tidak bisa melihat dan merawat kalian lagi tapi Ibu sudah Ikhlas, kamu sudah dewasa ya, San, jaga adikmu baik-baik. Ibu juga minta maaf selama ini sama semua orang dan kalian,” jawab Ibunya tersenyum. Ikhsan mengangkat adiknya yang tertidur ke dekat Ibunya. “Ibu nggak boleh bilang begitu, Bu. Setelah dioperasi pasti sembuh.” “Kamu harus Ikhlas, Ibu ingin kamu ikhlas karena sepertinya Ibu akan dijemput,” jawabnya membelai rambut Ikhsan dan Nisa yang masih tertidur. “Asyhadu’alailahailallah,” ucap Ibunya kemudian matanya terpejam kembali kepadaNya. “Innalillahi wa innailaihi roji’un,” ucap Ikhsan meneteskan air mata setelahnya dan banyak lagi orang yang mengucap setelah mendengar berita berpulang Ibunya ke Rahmatullah. Ibu mengangkat aku sebagai anaknya dengan harapan setiap anak adalah anugerah titipan Allah yang merupakan generasi penerus sebagai pembangun negeri ini kelak. Ibu yakin dan sebagai orang tua meskipun Beliau bukan orang tua kandungku terus membimbing dan mendidikku hingga sekarang. Aku tetap berusaha untuk tegar setelah kepergiannya. Bagaimanapun juga suatu hal yang patut disyukuri, Ibu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Telah seminggu semenjak kepergian Ibu, malam ini akan diadakan doa bersama (yasinan) di rumah ini. Rasanya baru kemarin Ibu memasak masakan untuk kami tapi hari ini aku yang menggantikan posisi Ibu meskipun Bi unah ingin membuatkan makanan untuk kami tapi aku menolaknya dengan alasan merepotkan lagipula Bi Unah punya keluarga yang lebih penting untuk diurusi, batin Ikhsan di dapur sambil memasak masakan untuk adiknya yang hampir benar-benar berputus asa atas kematian Ibunya maklum Nisa masih kecil. “Gimana nasi goreng buatan kak Ican? pastinya enak dong.” tanya Ikhsan pada adiknya setelah makan masakan buatannya. “Masih kalah dari buatan Ibu yang lebih enak, keacinan.” “Masa’ sih, Nisa bohong, enak kok?” “Aku jadi kenyang nih, Kak. Aku pergi sekolah dulu ya,”jawabnya kemudian pergi meninggalkan nasi goreng yang tidak habis dengan wajahnya yang tanpa senyum berbeda seperti ada Ibu dulu. “Nisa, diabisin dong nasinya, ntar nasinya nangis, Nisa!” seru Harun pada adiknya yang sedang memakai sepatunya yang bisa dikatakan sudah tidak layak pakai apalagi kalau hari hujan pasti airnya masuk dalam itu sepatu. Nisa hanya melihat dengan wajah sedih sepatunya itu. “Aku pergi, Kak. Assalamu’alaikum,” pamit Nisa tanpa menyalami kakaknya tanpa senyum lagi. Ikhsan berusaha membujuk adiknya yang ngambek itu tapi tetep aja Ia dicuekin oleh anak kecil itu (kasian deh Lu). Biasanya adiknya pergi ke sekolah.
         Awalnya, Ikhsan khawatir dengan adiknya yang tidak mau pergi ke sekolah bareng dia tapi adiknya itu bareng temennya jadi nggak khawatir deh Ikhsan. Ibu...Aku rindu Ibu, Kak. Ikhlas ya? ungkap Nisa dalam hati setelah itu. Ikhsan juga pergi sekolah bareng Ujang seperti biasanya sepulang sekolah Ia akan mencoba mencari kerja part time sama kayak Ujang yang kerjanya tidak tentu sampe Ujang pernah nggak masuk sekolah selama beberapa hari. Tapi karena sudah menjadi tekad Ikhsan, Ia tidak mau seperti Ujang yang mengorbankan sekolahnya karena bekerja. Ia pengen dua-duanya dapet n seimbang. Besoknya Ia mulai bekerja meski mendapat pekerjaan di toko tanaman, Ikhsan seneng banget karena selain menjaga Ia juga disuruh untuk merawat tanaman kayak nyiram, ngasih pupuk dsb. Selain mendapat upah Ikhsan juga bisa belajar tentang tanaman di sana apalagi toko berdekatan langsung dengan tempat khusus tanaman yang cukup besar itu di Jakarta yang sangat panas itu, ditambah dengan Global Warming. Ikhsan bersyukur masih bisa merasakan suasana alam lewat banyaknya tanaman mulai dari tanaman obat sampe tanaman hiasnya yang menarik. Pemilik tokonya ada dua tapi yang lebih sering mengurusi di sini Ibu Nora yang ramah dan baik. Selain itu, ada Ibu Mardina yang sering pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis lainnya. Ikhsan juga sering membawa buku kesana untuk belajar apalagi Ibu Nora sangat menyarankan. Lagipula ada seorang cewek yang lebih dulu bekerja darinya di sana juga sering membawa buku. Ia juga seumuran dengannya, cewek itu agak pemalu dan pendiam. “Kak Ican terima kasih sepatunya tapi sepatu inikan mahal pasti Kak Ican menabung yang banyak demi Nisa ya. Maafin Nisa yang sering ngambek sama kakak ya, kakak baik deh,” kata adiknya memuji Ikhsan yang heran karena Ia tidak tahu menahu soal sepatu itu. Memang Ia bermaksud untuk membelikan sepatu itu tapi uangnya yang terkumpul belum cukup untuk membeli sepatu yang mahal itu. Sebenarnya Ikhsan mempunyai ide kreatif untuk memperbaiki sepatu adiknya yang rusak (kayak sol sepatu gitu katanya sih hasilnya bakal keren) walaupun alat untuk memperbaikinya belum selesai dibuatnya. “Kamu dapat darimana bungkusan ini, dek?” tanyanya setelah Nisa menunjukkan sepatu dan bungkusannya. Astaghfirullah, inikan kotak sepatu yang diberikan tante kemarin kepadaku. Mana mungkin isinya sepatu bagus bukannya sandal putus, ini salahku kenapa aku tidak melihatnya, batin Ikhsan ragu akan sepatu itu kemudian senyum tanpa berkata apapun kepada adiknya karena Ia sepertinya lupa akan sesuatu dan mencoba mengingatnya. “Ayo! Kita solat Isya dulu,dek. Letakkan dulu sepatunya.” “Iya, kakak jadi imamnya ya, terima kasih kejutannya,” jawab Nisa dan Ikhsan kembali terdiam mencoba tersenyum tapi berjuta tanya mengenai sepatu itu. “Itu rezeki buat kamu, Can. Ambil saja, tak usah dipikirkan toh tante kemarin sudah ngasih kamu, nggak usah dipikirkan deh,” kata Ikhsan yang mencoba menerima saran dari Ujang setelah Ia menceritakannya tapi Ikhsan masih ragu. “Apa itu benar, Kak Nita?” tanya Ikhsan meyakinkan kebenaran kabar Bu Nora yang akan mengundurkan diri dengan menjual sahamnya setelah Nita salah seorang karyawan di sana menceritakannya. Memang benar akhir-akhir ini Bu Nora tampak murung dan sepertinya banyak masalah walaupun dihadapan kami semua tetap tersenyum tapi tak bisa dipungkuri kalau Beliau sedang banyak masalah. “Apa aku terlihat berbohong, Ibu Nora sendiri yang langsung bilang padaku sebelum pulang kita akan perpisahan dengan Bu Nora. Aku saja tidak menyangka dan ingin Ia tetap di sini tapi Ia bilang banyak masalah yang membuat Ia terpaksa meninggalkan semua ini,”jawabnya meyakinkan Ikhsan yang sedang mengangkat tanaman hias lalu meletakkannya di rak penjualan. Perpisahan ini bisa dikatakan menyedihkan karena tidak bisa melihat senyum manis dari keramahan dan kelembutan seorang atasan. Ibu Nora meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada semua karyawannya. Ia membuat makanan untuk para kayawannya. Bu Nora mendapatkan cindera mata sebagai kenangan yang baru dibeli dadakan dengan uang patungan. Keesokan harinya Ikhsan kembali bekerja di toko. Sudah ada pengganti Bu Nora, seorang atasan yang killer dengan karyawannya (bukan cuma guru). Dari penampilannya yang angkuh juga bisa ditebak sifat pemilik kedua dari toko Hijau Ceria itu benar-benar menyeramkan. Bayangkan saja sedikit kesalahan saja tak luput dari kemarahannya bahkan hari ini benar-benar menyedihkan bagi Risa, cewek pendiam itu dipecat cuma gara-gara Ia terjatuh dan terlambat datang setelah Ibu Martin memanggilnya. “Ada yang bisa Saya bantu?” tanya Ikhsan dari belakang cewek yang sebaya dengannya. “Ya.., jawabnya terputus setelah itu Ia terkejut melihat Ikhsan, membuat tanaman hias yang dipegangnya terjatuh dari tangannya. “Kamu yang waktu itu kan, dasar kamu! Kembalikan sepatuku...kembalikan,” omelnya sampai mencoba memukulnya dengan tasnya. Rupanya ingatannya kuat juga. “Sebentar-sebentar bisa kita bicarakan baik-baik, saya tidak mengerti dengan maksud mbak?” jawabnya mencoba meyakinkan cewek itu kemudian menghentikan aksinya itu. “Ayo kita bicarakan di tempat lain,” ajaknya pada Ikhsan. “Tapi sebentar saya pamit dulu.” “Ini penting, ayo!” paksa cewek itu kemudian menarik tangannya keluar. Ikhsan sepertinya tak berdaya buktinya aja Ia kalah. Untungnya ada Kak Nita yang muncul meneriakinya nyampe Ikhsan ditarik keluar, Ia balas berteriak meminta tolong menggantikannya. Untung nih cewek berhenti mukulin tapi rasanya memang pernah bertemu dengan nih cewek dimana ya? Alhamdulillah nggak dilihat orang juga, batinnya bersyukur dan mencoba mengingat (dasar pelupa). Rupanya cewek itu adalah cewek yang menabraknya namanya Zahra panggilannya Ara.
           Awalnya cewek itu penuh kemarahan dan emosi begitu mengetahui kalau bungkusannya tertukar dengan punya Ikhsan. Ara menceritakan semuanya, mulai dari Ia membeli sepatu itu dengan uang tabungannya sendiri sampai memberinya kepada adiknya yang isinya ternyata sandal putus. Sebenarnya, Ia ingin mengikhlaskan sepatu itu tapi karena tertukar membuat hubungannya dengan adiknya kacau sampai sekarang adiknya tidak mau menegurnya. Ia mengatakannya dengan marah lagi, wajahnya yang manis dan lembut waktu itu sirnalah sudah. Pokoknya Ikhsan nggak diberi kesempatan bicara, Ara terus ngomong udah lebih kayak curhat kayaknya Ia sedang banyak masalah. Rupanya Ia anak Bu Nora, Ia ke toko bunga untuk mengambil tanaman yang diberikan Ibu Mardina. Ya tanaman itu jatuh dengan potnya yang pecah karena terkejutnya Ia saat bertemu Ikhsan. Ia juga menceritakan alasan Bu Nora yang setia dengan suaminya itu. Rupanya ayahnya Ara yang telah ditetapkan melakukan tindak pidana korupsi dan keluarganya sekarang terancam miskin karena Ayahnya harus membayar denda dalam jumlah yang banyak sehingga Ibunya juga terpaksa menjual saham usahanya yang telah berkembang untuk membayar hutang ayahnya yang koruptor. Ara berharap kenyataan yang terjadi pada ayahnya tidak benar tapi itu adalah kenyataan yang sebenarnya setelah Ara mengetahui semua kesalahan ayahnya yang pernah Ia rasakan uang haram itu walaupun ayahnya bekerja di perusahaan bukan milik negara, koruptor tetap saja koruptor, moral bangsa di negeri ini bisa rusak karenanya. Ia tidak menyangkanya. “Apa kau tahu rasa sakit ini? Aku adalah seorang duta baca di sekolah dan aku sangat membenci bahkan mengutuk korupsi tapi ternyata Papaku sendiri adalah seorang koruptor. Orang yang selama ini kuteladani, menjadi inspirasiku saat Ia bekerja TAPI.. Apa yang harus Kulakukan?” ungkapnya dengan senyum tidak senang/dibuat-buat/terpaksa kemudian melihat ke atas langit sambil mengambil batu dan melemparkannya. “Solat, itu adalah salah satu cara terbaik biar hati tenang. Kamu rapuh dengan masalah yang kamu hadapi, emosimu juga tidak stabil. Keluargamu masih utuh dan Aku yakin mereka mencintaimu, itu yang perlu kau syukuri. Kamu harapan mereka kelak. Ambil hikmahnya, itu kata Almarhum Ibuku saat Ia masih hidup. Maafkan aku karena bungkus sepatu kita sampai tertukar karena tabrakan itu bertambah masalahmu tapi Aku janji, aku akan menggantinya. Kita di posisi yang sama karena cinta dengan seorang adik,” jawabnya kemudian melanjutkan ceritanya setelah Ara hanya menanggapi sarannya dengan ucapan terima kasih. Ikhsan juga menceritakan kesalahpahaman adiknya juga tak ketinggalan sepatu adiknya yang benar-benar tidak layak pakai tapi Ia berencana mendaur ulangnya sekarang alat-alat itu sudah mulai dikumpulkan. Ia berharap Ara dapat mengerti hal itu dan memakluminya (amien). Ara mengikhlaskan sepatu itu, Ia mendapat hikmah dari semua kejadian yang dialaminya. Mungkin Allah ingin Ia berbagi dan saat itu adalah saatnya bagaimana Ia ikhlas. “Aku dapat belajar sedekah dan ikhlas atas semuanya. Korupsi yang dilakukan ayahku telah merugikan orang lain, Ia mengambil yang bukan menjadi haknya. Aku menyetujui hukuman mati pada para koruptor di negara ini yang tidak berjalan, disogok dengan uang membuat hukum jadi mati. Akulah yang mengalami dan harus menerima hukuman apapun yang diberikan kepada ayahku termasuk hukuman mati. Walaupun di hatiku rasa tidak rela itu akan datang nantinya,”ujarnya melempar batu lagi kemudian Ikhsan membalasnya dengan nasihat yang menguatkan seperti yang sering dikatakan almarhum Ibunya. Ia juga menceritakan kisah keluarganya yang membuat Ara terharu (hiks..hiks) tapi tiba-tiba di sela percakapan mereka. “Hey, siapa yang melempar batu!,” teriak seorang bapak-bapak dengan wajah sangar (kena kepalanya yang benjol sebiji) menghampiri mereka yang langsung berlari ngibrit (untung aja bukan batu besar kalau nggak nanti berabe si Ara).
            Semenjak kejadian itu, Ikhsan hampir dipecat tapi nggak jadi karena Ara yang membantunya membujuk atasan killer (gara-gara Ara juga sih). Mereka berdua jadi sohib plus sama Ujang juga. Ikhsan emang ahli mendaur ulang buktinya aja sendal yang putus itu jadi keren dan limited edition, adiknya Ara seneng nerimanya. Mereka bersama meraih mimpi. Mereka sudah seperti keluarga, hari ini mereka mau ziarah ke makam Ibu Ikhsan. Aku harus jadi penerus bangsa yang akan membangun negeri ini meski banyak rintangan n sekarangpun juga, akan jadi motivasiku tetap bahagiakan mereka, batin Ara bertekad dalam dirinya, Ia pasti bisa. Kalo Ikhsan jangan ditanya, lihat aja di jidadnya tertulis SeUmanGatNYa.

0 comments:

Post a Comment

Ayo diskusi disini ..

Blog Kemasaja

Pengumuman BKN

Cakrawala News

  • Bajigur Legit - Rp 18000 Bajigur minuman khas sunda yang mengandung banyak manfaat, salah satunya yaitu untuk menghangatkan badan disaat terasa udara terasa dingin. Bajig...
    2 years ago
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Gapura Indonesia | Kemasaja